Sabtu, 27 Mei 2017

Bedanya Puasa di Kampung Halaman dengan di Perantauan


Ini Lho Bedanya Puasa di Kampung Halaman dengan di Perantauan

Ini Lho Bedanya Puasa di Kampung Halaman dengan di Perantauan


Semua orang pasti menginginkan untuk menjalani puasa di Bulan Ramadhan bersama dengan keluarga tercinta. Namun sayang, tidak semua dapat menghabiskan Bulan Ramadhan di kampung halaman. Bagi sebagian orang, terdapat keadaan yang memaksanya untuk menjalani Bulan Ramadhan jauh dari keluarga. Misalnya saja para mahasiswa yang sedang merantau. Saat inilah terkadang menjadi ujian tersendiri. Apalagi untuk mahasiswa semester awal yang belum lama menjalani hidup jauh dari orang tua.
Dalam keadaan seperti itu, terjadi gejolak hati yang luar biasa karena menghadapi kondisi yang sangat berbeda dengan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya ketika masih bersama orang tua. IsiGood merangkum 6 perbedaan yang dirasakan oleh kami, para perantau yang menjalani ibadah jauh dari keluarga.
Saat di Rumah…

Sahur ada yang bangunin


Enaknya sahur bareng keluarga (abiummi.com)
Saat di rumah, ada orang tua yang selalu perhatian dengan kita. Kita akan dibangunkan ketika masuk waktu sahur. Beda dengan saat kita merantau. Kita harus bertanggungjawab atas diri sendiri. Bangun-bangun sendiri. Momen yang paling sedih adalah tatkala  kita terlambat bangun sahur dan tidak ada teman kos yang membangunkan. Saat itu kita akan merasa sangat ingin pulang dan berpuasa dengan orang tua.

Bangun sahur makanan sudah siap


Hidangan sahur yang disiapkan ibu (grosirfrutablend.com)
Hampir semua orang tua tidak tega membangunkan anaknya sebelum hidangan sahur siap dihidangkan. Oleh karena itu, saat kita dibangunkan, makanan biasanya sudah siap di meja dan tinggal menyantapnya. Beda dengan di perantauan. Siapa yang mau masakin. Kita harus bangkit dari kamar dan berusaha sendiri mencari hidangan sahur. Terkadang kita harus pergi keluar melawan udara dingin yang menusuk, untuk membeli sebungkus nasi. Kalau tidak begitu, mana bisa kita sahur?

Lebih semangat beribadah


Semangat shalat tarawih (cdn.tmpo.co)
Di rumah ada orang tua yang siap ngomelin kita jika kita malas-malasan untuk beribadah. Selain itu,  orang tua juga selalu mengingatkan kita untuk mengaji. Juga memarahi kita ketika malas shalat tarawih. Nah kalau di rantau, kita jadi seenaknya. Mau tarawih ataupun tidak tarawih, suka-suka kita. Mau tidak mengaji pun tidak ada yang ngomel. Ini bisa membuat kualitas ibadah kita jadi turun daripada saat masih bersama orang tua.

Suasananya mengingatkan kita pada masa kecil


Bertemu dengan teman sewaktu kecil (farm4.static.flickr.com)
Iya kan, kampung halaman itu menyimpan kenangan-kenangan masa lalu. Ada teman sepermainan waktu kecil. Ada masjid tempat kita belajar mengaji dulu. Ada lapangan bola tempat kita bermain sambil menunggu adzan Maghrib. Ada jalanan yang biasa kita telusuri setelah subuh. Ada alunan Tilawah ataupun Qasidah dari kaset yang selalu di putar di masjid dekat rumah setiap bulan puasa. Ada banyak hal lain yang hanya ada di kampung halaman dan tidak kita temukan lagi disini, tanah rantau. Aduh, kangennya!

Menu buka bervariasi dan lengkap


Ada kolak, es buah, gorengan dan lain sebagainya (static.republika.co.id)
Nah ini nih, yang paling terasa. Saat di rumah, ibu biasanya bertanya kepada kita tentang menu apa yang ingin kita makan untuk buka. Sehingga, saat buka puasa, semuanya lengkap tersedia di meja. Es buah, kolak, gorengan, juga sayur yang rasanya lidah kita banget. Sedangkan kalau di rantau, menu makanan buka puasa tidak variatif karena biasanya kita membeli makanan di warung langganan yang masakannya sudah tertebak. Gorengan dan es buah juga tidak selalu ada. Maklum, anak rantau identik dengan kehidupan yang prihatin.

Tarawih dengan orang-orang terdekat


Kehangatan tarawih bersama keluarga (a.okezone.com)
Kalau di kampung halaman, kita akan tarawih di masjid yang sudah sangat akrab dengan kita. Jamaahnya juga sudah kita kenal lama. Sehingga, kehangatan dan kedekatan lebih terasa. Tapi saat di perantauan, kita akan lebih banyak bertarawih dengan orang-orang baru. Walaupun tidak sama sekali mengurangi keutamaan ibadah, keadaan seperti ini terkadang membuat kita homesick parah!
Sahabat IsiGood, itulah rasanya jika kita menjalani hari-hari di Bulan Ramadhan jauh dari orang tua. Rasanya sepi, sedih dan berasa ada yang kurang. Adakalanya kita merasakan rindu tidak tertahan sehingga ingin berlari pulang.  Tapi apapun itu, kita harus selalu ingat bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan yang hanya kita temui satu kali dalam setahun. Bulan yang belum tentu kita jumpai lagi di tahun-tahun berikutnya. Maka, yuk bersemangatlah dalam kondisi sulit ini !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar