Ini Lho Bedanya Puasa di Kampung Halaman dengan di Perantauan
Semua orang pasti
menginginkan untuk menjalani puasa di Bulan Ramadhan bersama dengan
keluarga tercinta. Namun sayang, tidak semua dapat menghabiskan Bulan
Ramadhan di kampung halaman. Bagi sebagian orang, terdapat keadaan yang
memaksanya untuk menjalani Bulan Ramadhan jauh dari keluarga. Misalnya
saja para mahasiswa yang sedang merantau. Saat inilah terkadang menjadi
ujian tersendiri. Apalagi untuk mahasiswa semester awal yang belum lama
menjalani hidup jauh dari orang tua.
Dalam keadaan seperti itu, terjadi
gejolak hati yang luar biasa karena menghadapi kondisi yang sangat
berbeda dengan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya ketika masih bersama
orang tua. IsiGood merangkum 6 perbedaan yang dirasakan oleh kami, para
perantau yang menjalani ibadah jauh dari keluarga.
Saat di Rumah…
Sahur ada yang bangunin
Enaknya sahur bareng keluarga (abiummi.com)
Saat di rumah, ada orang tua yang selalu
perhatian dengan kita. Kita akan dibangunkan ketika masuk waktu sahur.
Beda dengan saat kita merantau. Kita harus bertanggungjawab atas diri
sendiri. Bangun-bangun sendiri. Momen yang paling sedih adalah tatkala
kita terlambat bangun sahur dan tidak ada teman kos yang membangunkan.
Saat itu kita akan merasa sangat ingin pulang dan berpuasa dengan orang
tua.
Bangun sahur makanan sudah siap
Hidangan sahur yang disiapkan ibu (grosirfrutablend.com)
Hampir semua orang tua tidak tega
membangunkan anaknya sebelum hidangan sahur siap dihidangkan. Oleh
karena itu, saat kita dibangunkan, makanan biasanya sudah siap di meja
dan tinggal menyantapnya. Beda dengan di perantauan. Siapa yang mau
masakin. Kita harus bangkit dari kamar dan berusaha sendiri mencari
hidangan sahur. Terkadang kita harus pergi keluar melawan udara dingin
yang menusuk, untuk membeli sebungkus nasi. Kalau tidak begitu, mana
bisa kita sahur?
Lebih semangat beribadah
Semangat shalat tarawih (cdn.tmpo.co)
Di rumah ada orang tua yang siap
ngomelin kita jika kita malas-malasan untuk beribadah. Selain itu,
orang tua juga selalu mengingatkan kita untuk mengaji. Juga memarahi
kita ketika malas shalat tarawih. Nah kalau di rantau, kita jadi
seenaknya. Mau tarawih ataupun tidak tarawih, suka-suka kita. Mau tidak
mengaji pun tidak ada yang ngomel. Ini bisa membuat kualitas ibadah kita
jadi turun daripada saat masih bersama orang tua.
Suasananya mengingatkan kita pada masa kecil
Bertemu dengan teman sewaktu kecil (farm4.static.flickr.com)
Iya kan, kampung halaman itu menyimpan
kenangan-kenangan masa lalu. Ada teman sepermainan waktu kecil. Ada
masjid tempat kita belajar mengaji dulu. Ada lapangan bola tempat kita
bermain sambil menunggu adzan Maghrib. Ada jalanan yang biasa kita
telusuri setelah subuh. Ada alunan Tilawah ataupun Qasidah dari kaset
yang selalu di putar di masjid dekat rumah setiap bulan puasa. Ada
banyak hal lain yang hanya ada di kampung halaman dan tidak kita temukan
lagi disini, tanah rantau. Aduh, kangennya!
Menu buka bervariasi dan lengkap
Ada kolak, es buah, gorengan dan lain sebagainya (static.republika.co.id)
Nah ini nih, yang paling terasa. Saat di
rumah, ibu biasanya bertanya kepada kita tentang menu apa yang ingin
kita makan untuk buka. Sehingga, saat buka puasa, semuanya lengkap
tersedia di meja. Es buah, kolak, gorengan, juga sayur yang rasanya
lidah kita banget. Sedangkan kalau di rantau, menu makanan buka puasa
tidak variatif karena biasanya kita membeli makanan di warung langganan
yang masakannya sudah tertebak. Gorengan dan es buah juga tidak selalu
ada. Maklum, anak rantau identik dengan kehidupan yang prihatin.
Tarawih dengan orang-orang terdekat
Kehangatan tarawih bersama keluarga (a.okezone.com)
Kalau di kampung halaman, kita akan
tarawih di masjid yang sudah sangat akrab dengan kita. Jamaahnya juga
sudah kita kenal lama. Sehingga, kehangatan dan kedekatan lebih terasa.
Tapi saat di perantauan, kita akan lebih banyak bertarawih dengan
orang-orang baru. Walaupun tidak sama sekali mengurangi keutamaan
ibadah, keadaan seperti ini terkadang membuat kita homesick parah!
Sahabat IsiGood, itulah rasanya jika
kita menjalani hari-hari di Bulan Ramadhan jauh dari orang tua. Rasanya
sepi, sedih dan berasa ada yang kurang. Adakalanya kita merasakan rindu
tidak tertahan sehingga ingin berlari pulang. Tapi apapun itu, kita
harus selalu ingat bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan
yang hanya kita temui satu kali dalam setahun. Bulan yang belum tentu
kita jumpai lagi di tahun-tahun berikutnya. Maka, yuk bersemangatlah
dalam kondisi sulit ini !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar